Rabu, 11 Juni 2014
Informasi Penting: Cara melihat hasil pengajuan NISN
Informasi Penting: Cara melihat hasil pengajuan NISN: NISN singkatan dari Nomer Induk Siswa Nasional. Pemerintah dalam meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia telah banyak dilakukan upaya...
Informasi Penting: Petunjuk cara login akun sekolah padamu negeri
Informasi Penting: Petunjuk cara login akun sekolah padamu negeri: Pada kesempatan kali ini saya akan berbagi kepada anda semua yang mungkin belum tahu/belum paham cara logi/masuk ke akun sekolah padamu nege...
Jumat, 06 Juni 2014
Stasiun TV Asia yang Menyiarkan Piala Dunia 2014
Berikut Siaran yang Menyiarkan FIFA
WORLD CUP 2014
1.Indonesia :
Palapa D | TVONE : 3786 H 5632
Telkom 1 | ANTV : 4014 H 6000
2. Malaysia :
Measat 3 | TV1 & TV2 : 3878 V 18385, TV3 : 3786 V 7200
3. China :
Chinasat 6A |XJTV5 : 4121 H 27500
Chinasat 6B |CCTV : 3840 H 27500/3880 H 27500/4100 V 27500
4. Myanmar :
Thaicom 5 | MRTV 4 : 3618 V 12500
Palapa D | MWD : 4110 H 11669
5. Banglasdesh :
Asiasat 3S | BTV National : 3710 H 11395
Apstar 7 | Maasranga : 3799 H 4330
6. India :
Insat 3A | Ariana TV : 4141 V 5150, DD HD & DD sport : 3725 H 27500
7. Pakistan :
Paksat 1R | PTV Sports : 4004 V 3333
8. Arab Saudi :
Asiasat 5 | JSC Sport : 3760 H 27500
9. Nepal :
Thaicom 5 | NTV Plus : 3562 H 3700
Eutelsat 36A | NTV Plus : 11938 R 27500
10. Timor Leste :
Telkom 1 | RTTL : 3776 H 4280
11. Cambodia :
Telstar 18 | CTN : 3712 H 9628
12. Vietnam :
Vinasat 1 : VTV2 VTV3 : 3413 V 9766,K+ : 11048 H 28800, ANTV : 11472 H 23200
13. Thailand :
Thaicom 5 | BBTV Ch7 : 3764 V 5900, Modernine : 3520 H 28125
14. Laos :
Thaicom5 | LNTV3 : 3448 V 4375
15. Rusia :
Yamal 202 | Rusia1 & Rusia2 : 4114 R 10050, Saba1 & Saba2 : 3950 L 3374
Minggu, 01 Juni 2014
Perbedaan Kurikulum 2013 dan KTSP
Perbedaan Kurikulum 2013 dan KTSP
Ditulis oleh Fatur Thok
|
No
|
Kurikulum 2013
|
KTSP
|
| 1 | SKL (Standar Kompetensi Lulusan) ditentukan terlebih dahulu, melalui Permendikbud No 54 Tahun 2013. Setelah itu baru ditentukan Standar Isi, yang bebentuk Kerangka Dasar Kurikulum, yang dituangkan dalam Permendikbud No 67, 68, 69, dan 70 Tahun 2013 | Standar Isi ditentukan terlebih dahulu melaui Permendiknas No 22 Tahun 2006. Setelah itu ditentukan SKL (Standar Kompetensi Lulusan) melalui Permendiknas No 23 Tahun 2006 |
| 2 | Aspek kompetensi lulusan ada keseimbangan soft skills dan hard skills yang meliputi aspek kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan | lebih menekankan pada aspek pengetahuan |
| 3 | di jenjang SD Tematik Terpadu untuk kelas I-VI | di jenjang SD Tematik Terpadu untuk kelas I-III |
| 4 | Jumlah jam pelajaran per minggu lebih banyak dan jumlah mata pelajaran lebih sedikit dibanding KTSP | Jumlah jam pelajaran lebih sedikit dan jumlah mata pelajaran lebih banyak dibanding Kurikulum 2013 |
| 5 | Proses pembelajaran setiap tema di jenjang SD dan semua mata pelajaran di jenjang SMP/SMA/SMK dilakukan dengan pendekatan ilmiah (saintific approach), yaitu standar proses dalam pembelajaran terdiri dari Mengamati, Menanya, Mengolah, Menyajikan, Menyimpulkan, dan Mencipta. | Standar proses dalam pembelajaran terdiri dari Eksplorasi, Elaborasi, dan Konfirmasi |
| 6 | TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) bukan sebagai mata pelajaran, melainkan sebagai media pembelajaran | TIK sebagai mata pelajaran |
| 7 | Standar penilaian menggunakan penilaian otentik, yaitu mengukur semua kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan berdasarkan proses dan hasil. | Penilaiannya lebih dominan pada aspek pengetahuan |
| 8 | Pramuka menjadi ekstrakuler wajib | Pramuka bukan ekstrakurikuler wajib |
| 9 | Pemintan (Penjurusan) mulai kelas X untuk jenjang SMA/MA | Penjurusan mulai kelas XI |
| 10 | BK lebih menekankan mengembangkan potensi siswa | BK lebih pada menyelesaikan masalah siswa |
Itulah beberpa perbedaan Kurikulum 2013
dan KTSP. Walaupun kelihatannya terdapat perbedaan yang sangat jauh
antara Kurikulum 2013 dan KTSP, namun sebenarnya terdapat kesamaan
ESENSI Kurikulum 2013 dan KTSP. Misal pendekatan ilmiah (Saintific
Approach) yang pada hakekatnya adalah pembelajaran berpusat pada siswa.
Siswa mencari pengetahuan bukan menerima pengetahuan. Pendekatan ini
mempunyai esensi yang sama dengan Pendekatan Keterampilan Proses (PKP).
Masalah pendekatan sebenarnya bukan masalah kurikulum, tetapi masalah
implementasi yang tidak jalan di kelas. Bisa jadi pendekatan ilmiah yang
diperkenalkan di Kurikulum 2013 akan bernasib sama dengan
pendekatan-pendekatan kurikulum terdahulu bila guru tidak paham dan
tidak bisa menerapkannya dalam pembelajaran di kelas.
Perbedaan Kurikulum 2013 dan KTSP
Perbedaan Kurikulum 2013 Dengan KTSP - Kurikulum 2013
diluncurkan secara resmi pada tanggal 15 Juli 2013. Sedangkan
implementasinya telah diterapkan pada tahun pelajaran 2013/2014 di
sekolah-sekolah tertentu atau masih terbatas. Dulu dan sekarang, kita
sudah mengenal dengan yang namanya KTSPatau Kurikulum Tingkat
Satuan Pendidikan yang mulai diberlakukan sejak tahun ajaran 2007/2008.
Kalau kita cermati bersama, perbedaan paling mendasar antara
Kurikulum 2013 dengan KTSP. Dalam KTSP, kegiatan pengembangan silabus
merupakan kewenangan satuan pendidikan, namun dalam Kurikulum 2013
kegiatan pengembangan silabus beralih menjadi kewenangan pemerintah,
kecuali untuk mata pelajaran tertentu yang secara khusus dikembangkan di
satuan pendidikan yang bersangkutan.
Namun dibalik perbedaan yang ada, sebenarnya juga terdapat kesamaan esensi antara Kurikulum 2013 dengan KTSP. Misalnya tentang pendekatan ilmiah (Scientific Approach) yang pada hakekatnya adalah pembelajaran berpusat pada siswa. Siswa mencari pengetahuan bukan menerima pengetahuan. Pendekatan ini
mempunyai esensi yang sama dengan Pendekatan Keterampilan Proses
(PKP). Masalah pendekatan sebenarnya bukan masalah kurikulum, tetapi
masalah implementasi yang tidak jalan di kelas. Bisa jadi pendekatan
ilmiah yang diperkenalkan di Kurikulum 2013 akan bernasib sama dengan
pendekatan-pendekatan kurikulum terdahulu bila guru tidak paham dan
tidak bisa menerapkannya dalam pembelajaran di kelas.
Berikut ini adalah perbedaan antara Kurikulum 2013 dengan KTSP
No
|
Kurikulum 2013
|
KTSP
|
| 1 | SKL (Standar Kompetensi Lulusan) ditentukan terlebih dahulu, melalui Permendikbud No 54 Tahun 2013. Setelah itu baru ditentukan Standar Isi, yang bebentuk Kerangka Dasar Kurikulum, yang dituangkan dalam Permendikbud No 67, 68, 69, dan 70 Tahun 2013 | Standar Isi ditentukan terlebih dahulu melaui Permendiknas No 22 Tahun 2006. Setelah itu ditentukan SKL (Standar Kompetensi Lulusan) melalui Permendiknas No 23 Tahun 2006 |
| 2 | Aspek kompetensi lulusan ada keseimbangan soft skills dan hard skills yang meliputi aspek kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan | lebih menekankan pada aspek pengetahuan |
| 3 | di jenjang SD Tematik Terpadu untuk kelas I-VI | di jenjang SD Tematik Terpadu untuk kelas I-III |
| 4 | Jumlah jam pelajaran per minggu lebih banyak dan jumlah mata pelajaran lebih sedikit dibanding KTSP | Jumlah jam pelajaran lebih sedikit dan jumlah mata pelajaran lebih banyak dibanding Kurikulum 2013 |
| 5 | Proses pembelajaran setiap tema di jenjang SD dan semua mata pelajaran di jenjang SMP/SMA/SMK dilakukan dengan pendekatan ilmiah (saintific approach), yaitu standar proses dalam pembelajaran terdiri dari Mengamati, Menanya, Mengolah, Menyajikan, Menyimpulkan, dan Mencipta. | Standar proses dalam pembelajaran terdiri dari Eksplorasi, Elaborasi, dan Konfirmasi |
| 6 | TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) bukan sebagai mata pelajaran, melainkan sebagai media pembelajaran | TIK sebagai mata pelajaran |
| 7 | Standar penilaian menggunakan penilaian otentik, yaitu mengukur semua kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan berdasarkan proses dan hasil. | Penilaiannya lebih dominan pada aspek pengetahuan |
| 8 | Pramuka menjadi ekstrakuler wajib | Pramuka bukan ekstrakurikuler wajib |
| 9 | Pemintan (Penjurusan) mulai kelas X untuk jenjang SMA/MA | Penjurusan mulai kelas XI |
| 10 | BK lebih menekankan mengembangkan potensi siswa | BK lebih pada menyelesaikan masalah siswa |
Nah Bapak Ibu para pendidik, itulah Perbedaan Kurikulum 2013 Dengan KTSP yang bisa saya sampaikan dalam update kali ini. Semoga tulisan ini bisa menambah wawasan kita bersama.
Pengembangan dan Pembaruan Kurikulum
Pengembangan dan
Pembaharuan Kurikulum
A.
Tingkat
Pengembangan Kurikulum
Yang dimaksud
pengembangan kurikulum adalah proses penyusunan kurikulum oleh pengembang
kurikulum (curriculum developer) dan kegiatan yang dilakukan agar kurikulum
yang dihasilkan dapat menjadi bahan ajar dan acuan yang digunakan untuk
mencapai tujuan pendidikan nasional.
Secara
umum, perubahan dan penyempurnaan kurikulum dilakukan setiap sepuluh tahun
sekali. Perubahan kurikulum tersebut dilakukan agar kurikulum tidak ketinggalan
dengan perkembangan masyarakat, termasuk ilmu pengetahuan dan teknologinya.
Kurikulum yang pernah diberlakukan secara nasional di Indonesia dapat
dijelaskan dalam tabel sebagai berikut:
Tingkat Pengembangan
Kurikulum Yang ada di Indonesia
1.
Rencana Pelajaran 1947, Kurikulum ini merupakan kurikulum pertama di Indonesia setelah
kemerdekaan. Istilah kurikulum masih
belum digunakan. Sementara istilah yang digunakan adalah Rencana Pelajaran
2. Rencana Pelajaran
1954, Kurikulum ini masih sama dengan kurikulum sebelumnya, yaitu Rencana
Pelajaran 1947
3.
Kurikulum
1968, Kurikulum ini merupakan kurikulum terintegrasi pertama di Indonesia.
Beberapa masa pelajaran, seperti Sejarah, Ilmu Bumi, dan beberapa cabang ilmu
sosial mengalami fusi menjadi Ilmu Pengetahuan Sosial (Social Studies).
Beberapa mata pelajaran, seperti Ilmu Hayat, Ilmu Alam, dan sebagainya
mengalami fusi menjadi Ilmu Pengetahun Alam (IPS) atau yang sekarang sering
disebut Sains.
4.
Kurikulum 1975, Kurikulum ini disusun
dengan kolom-kolom yang sangat rinci.
5.
Kurikulum 1984, Kurikulum ini merupakan penyempurnaan dari kurikulum 1975
6. Kurikulum 1994,
Kurikulum ini merupakan penyempurnaan dari kurikulum 1984
7.
Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), Kurikulum ini belum diterapkan di seluruh
sekolah di Indonesia. Beberapa sekolah telah dijadikan uji coba dalam rangka
proses pengembangan kurikulum ini
8. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) •
KBK sering disebut sebagai jiwa KTSP, karena KTSP sesungguhnya telah mengadopsi
KBK. Kurikukulum ini dikembangkan oleh BSNP (Badan Standar Nasional
Pendidikan).
B.
Konsep
Dasar Pembaharuan Kurikulum
Pembaharuan
kurikulum mengikuti pola 10 tahunan. Tentunya ada hal baru yang dimasukkan
dalam setiap kurikulum, mengikuti perubahan sosial dan ekonomi masyarakat.
Konsep
Pembaharuan kurikulum pada umumnya adalah mengotak-atik mata pelajaran dalam
kurikulum, mengubah dan memperbaiki tujuan dan menambahkan atau mengurangi
muatan belajar. Tindakan seperti ini bukannya salah, tetapi bagian terpenting
dari sebuah pendidikan adalah bukan pada isinya yang banyak, tetapi pendekatan
cara mendidik.
Rencana
Pendidikan di Sekolah Isinya bukan saja mengenai kegiatan intra kurikular
tetapi juga ekstra kurikular. Yang dimaksud dengan kegiatan ekstra kurikular
bukan saja berupa klub tetapi seharusnya dikembangkan berdasarkan rundingan
guru, kepala sekolah, orang tua dengan mempertimbangkan kemampuan anak dan
kondisi lingkungan/daerah di mana dia berada.
Dengan
kata lain, nafas bukanlah perkara yang memaksa guru atau menyengsarakan guru
(karena ketidakjelasannya) dalam mengembang-
kan materi yang dia ajarkan. Akan tetapi harus mengajak
komponen sekolah untuk membicarakan bagaimana pendidikan di sekolah seharusnya
dikembangkan berdasarkan standar minimal yang ditetapkan pemerintah.
Jika
ada seorang guru berhasil mengembangkan materi pelajarannya, mengembangkan
metode baru dan selesai dengan cepat menyusun silabus pengajaran, itu bukanlah
sebuah kemajuan bagi pendidikan di sekolah. Tetapi yang terpenting adalah
menjadikan keberhasilan itu menjadi bukan milik pribadi, tetapi dimiliki oleh
semua guru dan aparat sekolah.
Dengan
landasan berfikir seperti ini, maka pendidikan tidak lagi sekedar merupakan
jiplakan apa yang tertera dalam kurikulum, tetapi pendidikan di sekolah
merupakan pengembangan standar minimal yang menjadi sebuah kegiatan/program.
C.
Latar
Belakang Pengembangan Kurikulum
Dalam pengembangan kurikulum dikenal ada lima istilah,
yaitu pengembangan kurikulum (Curriculum development), perbaikan kurikulum
(Curriculum improvement), perencanaan kurikulum (Curriculum planning),
penerapan kurikulum (curriculum implementation), dan evaluasi kurikulum
(curriculum evaluation).
1.
Pengembangan
kurikulum dan perbaikan kurikulum merupakan istilah yang mirip tetapi tidak
sama . Pengembangan kurikulum merupakan istilah yang lebih komprehensif, di
dalamnya termasuk perencanaan, penerapan, dan evaluasi dan berimplikasi pada
perubahan dan perbaikan. Sedangkan perbaikan kurikulum sering bersinonim dengan
pengembangan kurikulum, walaupun beberapa kasus perubahan dipandang sebagai
hasil dari pengembangan.
2.
Perencanaan
kurikulum adalah fase pre-eliminer dari pengembangan kurikulum. Pada saat
pekerja kurikulum membuat keputusan dan beraksi untuk menetapkan rencana yang
akan dilaksanakan oleh guru dan siswa. Jadi perencanaan merupakan fase berfikir
atau fase disain.
3.
Penerapan
kurikulum adalah menterjemahkan rencana ke dalam tindakan. Pada saat tahap perencanaan kurikulum, terjadi pemilihan
pola tertentu organisasi kurikulum atau reorganisasi. Pola-pola tersebut
diletakkan dalam tahap penerapan kurikulum. Cara-cara penyempaian
pengalaman belajar, misalnya penggunaan tim pengajaran, diambil dari konteks
perencanaan dan dibuat operasional. Penerapan kurikulum juga mentermahkan
rencana menjadi tindakan dalam kelas, juga aturan pergantian guru dari pekerja
kurikulum menjadi instruktur.
4.
Evaluasi
kurikulum merupakan fase terakhir dalam pengembangan kurikulum di mana hasilnya
diases dan keberhasilan pebelajar dan program ditentukan. Fase ini akan dibahas
lebih rinci pada langkah-langkah pengembangan kurikulum.
D.
Masalah-masalah
dalam Pembaharuan
Menurut Zahara Ideris (1982) yang
dikutip oleh Subandijah (1993 : 77 ) mengemukakan masalah-masalah yang menuntut
adanya inovasi pendidikan dan kurikulum di Indonesia adalah sebagai berikut :
a.
Perkembangan ilmu
pengetahuan yang menghasilkan teknologi yang
mempengaruhi kehidupan sosial, ekonomi, politil, pendidikan dan
kebudayaan.
b.
Laju eksplosi penduduk
yang cukup pesat, yang menyebabkan daya tampung ruang dan fasilitas pendidikan
sangat tidak seimbang.
c.
Mutu pendidikan yang
dirasakan semakin menurun, yang belum mampu mengikuti perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi.
d.
Kurang adanya
relevansi antara program pendidikan dengan kebutuhan masyarakat yang sedang
membangun
e.
Belum berkembangnya
alat organisasi yang efektif serta belum tumbuhnya suasana yang subur dalam
masyarakat untuk mengadakan perubahan-perubahan yang dituntut oleh keadaan
sekarang dan yang akan datang.
Akibat-Akibat
dari Pembaharuan Kurikulum Sekolah
Usaha-usaha
pembaharuan kurikulum dilakukan dengan maksud untuk mencari suatu model
kurikulum yang tepat untuk mememuhi kebutuhan dan tuntutan masyarakat yang
senatiasa terus berubah dan terus berkembang.
Pada umumnya akibat yang
ditimbulkan dari berlakunya kurikulum baru tergantung pada taraf atau besarnya
perubahan. Akibat-akibat perubahan tersebut antara lain :
A. Tenaga
kependidikan
Mereka harus berubah perilaku jika
ada pembaharuan kurikulum sehingga pembaharuan itu dapat berhasil dengan baik.
1) Guru
Guru dituntut
untuk meningkatkan kemampuan/kompetensi dalam melaksanakan tugasnya.
Partisipasi guru dalam pembaharuan kurikulum sangat besar karena guru adalah
pelaksana utama dalam pelaksanaan kurikulum. Kepercayaan guru terhadap
pembaharuan harus tertanam agar dapat menimbulkan keyakinan dan kesediaan untuk
melaksanakan pembaharuan tersebut.
2) Kepala Sekolah, Pengawas dan
Supervisor Sekolah
Mereka harus dapat memberikan
dorongan, bimbingan dan bantuan kepada guru-guru dalam melakasanakan pembaharuan
tersebut sekaligus melakukan pengawasan dan evaluasi pelaksanaan pembaharuan
tersebut,
apakah sesuai dengan pedoman yang ditetapkan, adakah hambatannya.
3) Tenaga administrasi sekolah
Dalam hal ini dituntut kemmapuan
untuk merumuskan menyusun dan melaksanakan administrasi sekolah terutama
administrasi pengajaran yang baru. Dalam melaksanakan administrasi yang baru
akan ditemui kepincangan karena kemempuan staf administrasi sekolah tidak dapat
dengan segera disesuaikan dengan pola yang dikehendaki dalam kurikulum baru,
tentunya diperlukan pembinaan kepada staf administrasi sekolah tersebut.
4) Pihak-pihak lain yang terlibat
Kepada pihak lain yang terlibat
dimintakan perhatian dan kerjasamanya dalam pelaksanaan pembaharuan kurikulum:
a)
Kepada orang tua peserta
didk, mereka harus diberikan penjelasan apa itu kurikulum, kurikulum yang
dipakai dan bagaimana pelaksanaanya serta partisipasi apa yang diharapkan dari
mereka.
b)
Kepada pemakai
lulusan, mereka diminta untuk menilai dan memberikan saran kepada sekolah dan
instansi terkait apakah program yang dilaksanakan sesuai dengan kebtuhan
pemakai lulusan tersebut.
Namun biasa terjadi adanya
pembaharuan kurikulum pada tahap awalnya menimbulkan kecurigaan dari masyarakat
yang mungkin karena rasa khawatir mereka terhadap keberhasilan pelaksanaan
pembaharuan tersebut.
B. Isi dan
Struktur Mata Pelajaran
Isi/bahan mata
pelajaran akan mengalami penyesuaian baik penambahan atau perubahan, hal ini
menuntut untuk disedikannya buku-buku pedoman, buku-buku pelajaran yang sesuai
dengan isi dan struktur mata pelajaran tersebut untuk menunjang pelaksanaan
pembaharuan kurikulum. Dalam perubahan skala besar struktur mata pelajaran di
Indonesia pernah terjadi yakni perubahan Kurikulun Tahun 1968 menjadi Kurikulum
tahun 1975, kemudian Kurikulum Tahun 1984 menjadi kurikulum Tahun 1994 yakni
adanya kurikulum muatan lokal. Dan sekarang Kurikulum Tahun 2003 marupakan
Kurikulum Berbasis Kompetensi atau yang dikenal dengan istilah KBK.
C. Proses
Belajar Mengajar
Hubungan guru dan peserta didik
dapat berubah, pada kurikulum yang berpola separated subject matter yang l;ebih
menekankan pada penguasaan pengetahuan, anak kurang aktif dalam proses belajar
mengajar, tetapi gurulah yang paling banyak berperan. Berbeda dengan activity
curriculum or experiment of curriculum yang lebih menekankan pada metode
problem solving yang lebih banyak menuntut keaktifan anak.
D. Sarana dan
Prasana Pendidikan
Perubahan kurikulum juga menuntut
disediakannya sarana dan prasana yang menunjang pelaksanaan pembaharuan tersebut
seperti alat-alat pelajaran: globe, OHP, film radio, ruang kesenian/praktek, perpustakaan
dan laboraturium. Dalam penyediaan ini tentunya memerlukan biaya yang cukup
besar dan waktu.
E. Sistem
Evaluasi
Dalam hal akan terjadi perubahan
sistem evaluasi baik terhadap evaluasi keberhasilan pelaksanaan kurikulum
secara keseluruhan maupun sistem penilaian keberhasilan pembelajaran di sekolah
atau dikelas.
Psikologi Pendidikan dan Guru
Psikologi Pendidikan dan Guru
Secara
etimologis, psikologi berasal dari kata “psyche” yang berarti jiwa atau
nafas hidup, dan “logos” atau ilmu. Dilihat dari arti kata tersebut
seolah-olah psikologi merupakan ilmu jiwa atau ilmu yang mempelajari
tentang jiwa. Jika kita mengacu pada salah satu syarat ilmu yakni adanya
obyek yang dipelajari, maka tidaklah tepat jika kita mengartikan
psikologi sebagai ilmu jiwa atau ilmu yang mempelajari tentang jiwa,
karena jiwa merupakan sesuatu yang bersifat abstrak dan tidak bisa
diamati secara langsung.
Berkenaan dengan obyek psikologi ini,
maka yang paling mungkin untuk diamati dan dikaji adalah manifestasi
dari jiwa itu sendiri yakni dalam bentuk perilaku individu dalam
berinteraksi dengan lingkungannya. Dengan demikian, psikologi kiranya
dapat diartikan sebagai suatu ilmu yang mempelajari tentang perilaku individu dalam berinteraksi dengan lingkungannya.
Psikologi terbagi ke dalam dua bagian yaitu psikologi umum (general phsychology) yang mengkaji perilaku pada umumnya dan psikologi khusus yang mengkaji perilaku individu dalam situasi khusus, diantaranya :
- Psikologi Perkembangan; mengkaji perilaku individu yang berada dalam proses perkembangan mulai dari masa konsepsi sampai dengan akhir hayat.
- Psikologi Kepribadian; mengkaji perilaku individu khusus dilihat dari aspek – aspek kepribadiannya.
- Psikologi Klinis; mengkaji perilaku individu untuk keperluan penyembuhan (klinis)
- Psikologi Abnormal; mengkaji perilaku individu yang tergolong abnormal.
- Psikologi Industri; mengkaji perilaku individu dalam kaitannya dengan dunia industri.
- Psikologi Pendidikan; mengkaji perilaku individu dalam situasi pendidikan
Disamping jenis – jenis psikologi yang
disebutkan di atas, masih terdapat berbagai jenis psikologi lainnya,
bahkan sangat mungkin ke depannya akan semakin terus berkembang, sejalan
dengan perkembangan kehidupan yang semakin dinamis dan kompleks.
Psikologi pendidikan dapat dikatakan sebagai suatu ilmu karena didalamnya telah memiliki kriteria persyaratan suatu ilmu, yakni :
Psikologi pendidikan dapat dikatakan sebagai suatu ilmu karena didalamnya telah memiliki kriteria persyaratan suatu ilmu, yakni :
- Ontologis; obyek dari psikologi pendidikan adalah perilaku-perilaku individu yang terlibat langsung maupun tidak langsung dengan pendidikan, seperti peserta didik, pendidik, administrator, orang tua peserta didik dan masyarakat pendidikan.
- Epistemologis; teori-teori, konsep-konsep, prinsip-prinsip dan dalil – dalil psikologi pendidikan dihasilkan berdasarkan upaya sistematis melalui berbagai studi longitudinal maupun studi cross sectional, baik secara pendekatan kualitatif maupun pendekatan kuantitatif.
- Aksiologis; manfaat dari psikologi pendidikan terutama sekali berkenaan dengan pencapaian efisiensi dan efektivitas proses pendidikan.
Dengan demikian, psikologi pendidikan
dapat diartikan sebagai salah satu cabang psikologi yang secara khusus
mengkaji perilaku individu dalam konteks situasi pendidikan dengan
tujuan untuk menemukan berbagai fakta, generalisasi dan teori-teori
psikologi berkaitan dengan pendidikan, yang diperoleh melalui metode
ilmiah tertentu, dalam rangka pencapaian efektivitas proses pendidikan.
Pendidikan memang tidak bisa dilepaskan
dari psikologi. Sumbangsih psikologi terhadap pendidikan sangatlah
besar. Kegiatan pendidikan, khususnya pada pendidikan formal, seperti pengembangan kurikulum, Proses Belajar Mengajar, sistem
evaluasi, dan layanan Bimbingan dan Konseling merupakan beberapa
kegiatan utama dalam pendidikan yang di dalamnya tidak bisa dilepaskan
dari psikologi.
Pendidikan sebagai suatu kegiatan yang di
dalamnya melibatkan banyak orang, diantaranya peserta didik, pendidik,
adminsitrator, masyarakat dan orang tua peserta didik. Oleh karena itu,
agar tujuan pendidikan dapat tercapai secara efektif dan efisien, maka
setiap orang yang terlibat dalam pendidikan tersebut seyogyanya dapat
memahami tentang perilaku individu sekaligus dapat menunjukkan
perilakunya secara efektif.
Guru dalam menjalankan perannya sebagai
pembimbing, pendidik dan pelatih bagi para peserta didiknya, tentunya
dituntut memahami tentang berbagai aspek perilaku dirinya maupun
perilaku orang-orang yang terkait dengan tugasnya,–terutama perilaku
peserta didik dengan segala aspeknya–, sehingga dapat menjalankan tugas
dan perannya secara efektif, yang pada gilirannya dapat memberikan
kontribusi nyata bagi pencapaian tujuan pendidikan di sekolah.
Di sinilah arti penting Psikologi
Pendidikan bagi guru. Penguasaan guru tentang psikologi pendidikan
merupakan salah satu kompetensi yang harus dikuasai guru, yakni
kompetensi pedagogik. Muhibbin Syah (2003) mengatakan bahwa “diantara
pengetahuan-pengetahuan yang perlu dikuasai guru dan calon guru adalah
pengetahuan psikologi terapan yang erat kaitannya dengan proses belajar
mengajar peserta didik”
Dengan memahami psikologi pendidikan, seorang guru melalui pertimbangan – pertimbangan psikologisnya diharapkan dapat :
1. Merumuskan tujuan pembelajaran secara tepat.
Dengan memahami psikologi pendidikan
yang memadai diharapkan guru akan dapat lebih tepat dalam menentukan
bentuk perubahan perilaku yang dikehendaki sebagai tujuan pembelajaran.
Misalnya, dengan berusaha mengaplikasikan pemikiran Bloom tentang
taksonomi perilaku individu dan mengaitkannya dengan teori-teori
perkembangan individu.
2. Memilih strategi atau metode pembelajaran yang sesuai.
Dengan memahami psikologi pendidikan yang
memadai diharapkan guru dapat menentukan strategi atau metode
pembelajaran yang tepat dan sesuai, dan mampu mengaitkannya dengan
karakteristik dan keunikan individu, jenis belajar dan gaya belajar dan
tingkat perkembangan yang sedang dialami siswanya.
3. Memberikan bimbingan atau bahkan memberikan konseling.
Tugas dan peran guru, di samping
melaksanakan pembelajaran, juga diharapkan dapat membimbing para
siswanya. Dengan memahami psikologi pendidikan, tentunya diharapkan guru
dapat memberikan bantuan psikologis secara tepat dan benar, melalui
proses hubungan interpersonal yang penuh kehangatan dan keakraban.
4. Memfasilitasi dan memotivasi belajar peserta didik.
Memfasilitasi artinya berusaha untuk
mengembangkan segenap potensi yang dimiliki siswa, seperti bakat,
kecerdasan dan minat. Sedangkan memotivasi dapat diartikan berupaya
memberikan dorongan kepada siswa untuk melakukan perbuatan tertentu,
khususnya perbuatan belajar. Tanpa pemahaman psikologi pendidikan yang
memadai, tampaknya guru akan mengalami kesulitan untuk mewujudkan
dirinya sebagai fasilitator maupun motivator belajar siswanya.
5. Menciptakan iklim belajar yang kondusif.
Efektivitas pembelajaran membutuhkan
adanya iklim belajar yang kondusif. Guru dengan pemahaman psikologi
pendidikan yang memadai memungkinkan untuk dapat menciptakan iklim
sosio-emosional yang kondusif di dalam kelas, sehingga siswa dapat
belajar dengan nyaman dan menyenangkan.
6, Berinteraksi secara tepat dengan siswanya.
Pemahaman guru tentang psikologi
pendidikan memungkinkan untuk terwujudnya interaksi dengan siswa secara
lebih bijak, penuh empati dan menjadi sosok yang menyenangkan di hadapan
siswanya.
7. Menilai hasil pembelajaran yang adil.
Pemahaman guru tentang psikologi
pendidikan dapat mambantu guru dalam mengembangkan penilaian
pembelajaran siswa yang lebih adil, baik dalam teknis penilaian,
pemenuhan prinsip-prinsip penilaian maupun menentukan hasil-hasil
penilaian.
Langganan:
Postingan (Atom)
